Tuesday, December 18, 2012

Gamelan Kodok Ngorek - oleh Rahayu Supanggah dalam bukunya yang berjudul “Bothekan Karawitan I”


oleh Rahayu Supanggah dalam bukunya yang berjudul “Bothekan Karawitan I”

Gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh beberapa keraton (juga beberapa kadipaten, termasuk di luar Surakarta dan Yogyakarta) saja. Perorangan, masyarakat umum, dan lembaga di luar keratin tidak dibenarkan memiliki perangkat gamelan jenis ini. Gamelan dan gendhing Kodok Ngorek oleh masyarakat umum hampir selalu dihubungkan dengan hajatan atau peristiwa pernikahan. Belum diketahui mengapa gamelan ini disebut Kodok Ngorek. Suara gamelan ini tidak mirip dengan suara kodhok (katak) yang sedang ngorek (menyanyi, berbunyi).

Sampai sekarang, banyak anggota masyarakat Jawa yang menggunakan, gendhingnya (walaupun ditabuh pada perangkat gamelan biasa atau perangkat gamelan ageng, bukan perangkat gamelan Kodok Ngorek) pada saat temanten temu, sebuah upacara tradisi pernikahan Jawa dimana mempelai pria dan wanita secara resmi dipertemukan di hadapan para tamu (sebagai saksi) dalam sebuah upacara adat pernikahan yang disebut panggih (artinya temu atau jumpa), satu rangkaian upacara yang terdiri dari berbagai kegiatan dengan berbagai asesorisnya yang khas dan simbolik.
Sebenarnya gamelan Kodok Ngorek di keratin tidak hanya digunakan sebagai kelengkapan dari upacara pernikahan saja, ia juga hadir dalam berbagai upacara, contoh seperti pada grebeg Puasa, grebeg Maulud dan grebeg besar (grebeg bulan haji, Dzulhijah). Kodok ngorek ditabuh menyertai prosesi gunungan (sepasang tumpeng nasi yang sangat besar dilengkapi dengan lauk-pauknya yang berupa sayur-sayuran dan hasil-hasil pertanian) dari keratin menuju ke masjid besar melalui sitinggil, tempat dimana biasanya gamelan Kodok Ngorek dan lainya disimpan, digelar dan ditabuh.
Gamelan Kodok Ngorek juga ditabuh pada saat ada peristiwa kekeluargaan kerabat raja. Ia ditabuh dan difungsikan sebagai tengara, wara-wara atau pengumuman, tanda atau berita tentang adanya kelahiran bayi (atau juga kematian keluarga raja) perempuan. Kodok Ngorek dengan demikian sering diasosiasikan dengan sifat kefeminiman. Dapat diduga dan dapat dimengerti bila kemudian kita mencoba untuk menghubungkannya dengan karakter bunyi atau karakter satu-satunya repertoar gendhing yang dimilikinya (gendhing Kodok Ngorek) yang relative halus dan feminism. Hal ini mungkin menjadi lebih jelas lagi ketika kita mencoba untuk membandingkan karakter suara/gendhing gamelan Kodok Ngorek ini dengan karakter bunyi/gendhing perangkat gamelan pakurmatan lainnya yang sejenis, yaitu perangkat gamelan Monggang yang relative lebih keras dan maskulin.

1 comment

© アダン
Maira Gall