Tuesday, December 18, 2012

Asal Mula Angklung Berawal dari Budaya Agraris Masyarakat Sunda dan Jawa


oleh Rasyadan Muhammad (12112117)
Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Sunda) atau dalam budaya Jawa dikenal sebagai dewi Sri adalah dewi pertanian, dewi padi dan dewi sawah, serta dewi kesuburan di pulau Jawa dan Bali. Pemuliaan dan pemujaan terhadapnya sudah berlangsung sejak masa pra-Hindu dan pra-Islam masuk di pulau Jawa (http://id.wikipedia.org/wiki/Sri).
Berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang mayoritas adalah masyarakat agraris dimana sumber kehidupan adalah berasal dari padi sebagai makanan pokoknya. Dari kenyataan tersebut berdasarkan perenungan masyarakat Sunda dahulu kala dalam mengolah pertanian terutama di sawah telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Pohaci Sanghyang Asri atau Dewi Sri, serta upaya untuk menolak bala agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya.
Selanjutnya syair-syair dan lagu-lagu persembahan untuk dewi Sri tersebut disertai iringan bunyi-bunyian yang ditabuh terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yanbg kemudian struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung dan calung.
Dewi sri adalah dewi percocok tanaman , terutama padi dan sawah di pulau jawa dan bali. Ia memiliki pengaruh di dunia bawah tanah dan terhadap bulan. Ia juga dapat mengontrol bahan makanan di bumi dan kematian. Karena ia merupakan simbol bagi padi, ia juga dipandang sebagai ibu kehidupan. Sebagai tokoh yang sangat diagung-agungkan, ia memiliki berbagai versi cerita, kebanyakan melibatkan dewi sri (dewi asri, nyi pohaci) dan saudara laki-lakinya sedana (sadhana atau sadono), dengan latar belakang kerajaan medang kamulan, atau kahyangan (dengan keterlibatan dewa-dewa seperti batara guru), atau kedua-duanya. Di beberapa versi, dewi sri dihubungkan dengan ular sawah sedangkan sadhana dengan burung sriti. Orang jawa tradisionalmemiliki tempat khusus di tengah rumah mereka untuk dewi sri agar mendapatkan kemakmuran yang dihiasi dengan ukiran ular. Di masyarakat pertanian, ular yang masuk ke dalam rumah tidak diusir karena ia meramalkan panen yang berhasil, sehingga malah diberi sesajen. Di bali, mereka menyediakan kuil khusus untuk dewi sri di sawah. Orang sunda memiliki perayaan khusus dipersembahkan untuk dewi sri (http://subang--kuningan.blogspot.com/2012/05/asal-usul-angklung.html diunduh tanggal 17 Desember 2012 pukul 18.50).
Perkembangan selanjutnya dalam permainan alat musik angklung selain sebagai iringan lagu-lagu persembahan untuk dewi Sri, disertai juga didalamnya unsur gerak berupa tari yang ritmis dengan pola tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk. Demikian pula pada acara-acara lainnya yang bersangkut paut dengan padi dan sawah seperti saat pesta panen dan sebagainya.

No comments

Post a Comment

© アダン
Maira Gall