Story
Showing posts with label Story. Show all posts

Thursday, April 24, 2014

MODEL SKEMA DAN VARIASI DALAM SEJARAH FILM


            Film dalam sejarah telah memberikan pengaruh dan dampak yang dibuat oleh masing-masing sutradara pada zamannya, hal tersebut muncul dari kekuatan medium film itu sendiri. Mengutip perkataan Lauren Becall yang mengatakan “The industry is shit, it’s medium that’s great” bahwa perkembangan film dalam sejarah mengacu pada perkembangan teknik yang digunakan oleh masing-masing sutradara pada setiap periode, bagaimana mereka menggunakan teknik tersebut dan mengembangkannya untuk film-film mereka dan bagaimana mereka mengubah medium film itu sendiri yang ditujukan untuk memberikan pengaruh sinematik kepada para filmmaker selanjutnya.

            Medium film sendiri berangkat dari kemampuan yang dihasilkan oleh ilmu fotografi, dimana kumpulan gambar statis yang berurutan pada sebuah peristiwa dapat menjadi sebuah gambar bergerak, sistem kerja ini dikenal sebagai intermitten movement. Lalu kemampuan tersebut didukung oleh kemampuan alamiah manusia yakni mata yang bisa menangkap sebuah gambar dalam sepersekian detik dan masih dapat mengingat gambar tersebut walaupun sudah berlalu, sistem kerja mata inipun dikenal dengan istilah persistence of vision. Istilah-istilah tersebut tidak akan disebut dalam sejarah apabila tidak adanya kemampuan dari sebuah medium, kemampuan yang berhasil diciptakan oleh sekumpulan ilmuwan, temuan yang menghasilkan sebuah teknologi.

Sunday, December 11, 2011

Penjelasan

Semenjak beranjak dewasa aku mulai egois dengan dunia luar. Entah karena kejadian apa aku menjadi anak kurang pergaulan seperti ini. Dalam pikiranku, terasa nyaman berada di dalam rumah melakukan aktivitas-aktivitar yang menurutku berguna. Melihat dunia luar khususnya lingkungan tempat tinggal ku, anak-anak yang berubah menjadi dewasa. Sepertiku. Tapi tidak sempurna seperti diriku, sebagian mereka mulai memasuki dunia pergaulan bebas yang banyak orang tahu, itu nakal. Haha.. Aku tertawa dalam hati, melihat tingkah laku mereka dan diriku. Aku seakan ragu, apakah pertumbuhan yang aku lalui dengan lingkungan sekitarku sehat secara akal? Sehat secara sosial? Apakah berdosa menurut agama? Hah.. Aku tidak tau. Hanya Allah yang tahu.
Tapi dibalik kehambaran ini. Aku tetap membangun diriku secara mandiri. Di kamarku penuh dengan buku-buku yang isinya berpemikiran dewasa. Didalam kamarku dan rumahku aku terus belajar. Sedikit sekali aku mengeluarkan kemampuan ku diluar, bukan bermaksud sombong atau pelit. Ya wong aku maunya gitu.. Haha
Aku terus berdoa dan beribadah kepada-Nya. Aku terus mempelajari berbagai falsafah dan pemikiran yang ada di dunia ini. Tapi aku tahu diri, diriku hanya untuk Allah dan Muhammad saw.
Nah kawan, aku bercerita disini hanya untuk kalian tahu aku hanya manusia biasa. Yang bisa salah, bisa berdosa, bisa mati kapanpun. Aku hanya hidup untuk kebaikan semampuku, kepada siapa saja. Untuk ilmu. Untuk agama. Untuk hiburan. Untuk mencintai. Untuk segala sesuatu tentang kebenaran. Untuk cerita perumpamaan kalian semua. Menurutku.

Tuesday, December 6, 2011

Legenda 47 Ronin

Pada awal abad ke delapan belas, tinggalah seorang Daimyo bernama Asano Takami no Kami. Ia adalah kaisar istana Ako di Propinsi Hiarama. Seorang perwakilan dari istana Mikado dikirim untuk menghadap Shogun di Yedo, Takumi no Kami dan bangsawan lainnya Kamei Sama dipilih untuk menerima dan menyediakan sebuah penyambutannya, dan seorang pejabat tinggi bernama Kira Kotsuke no Suke, ditunjuk untuk mengajari mereka tentang upacara yang tepat untuk menyambut peristiwa tersebut. Kedua bangsawan tersebut terpaksa pergi ke istana setiap hari untuk mendengarkan petunjuk-petunjuk dari Kotsuke no Suke. Akan tetapi, Kotsuke no Suke adalah seseorang yang tamak akan uang dan ia sangat memperhitungkan hadiah yang selalu dibawa oleh kedua bangsawan tersebut atas petunjuk yang mereka dapatkan, karena sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk menghargau waktu yang ada. Karena hadiah yang mereka bawa hanyalah barang-barang biasa dan tidak bernilai sama sekali, Koysuke no Suke tidak menyukai mereka, tapi ia tidak terlalu mengambil hati akan hal tersebut dan malah menjadikan mereka sebagai bahan olok-olokan. Takumi no Kami mampu menahan emosi karena ia melakukan semua ini berdasarkan ketaatannya untuk menjalankan tugas dan kewajibannya, dan ia dapatkan dengan penuh kesabara, tapi Kamei Sama yang tidak bisa mengendalikan emosinya, menjadi sangat geram akan hal tersebut, dan berniat untuk membunuh Katsuko no Suke.
© アダン
Maira Gall